Thursday, November 26, 2009

Karir & Perselingkuhan


Kenapa Perempuan harus bekerja...????

Perempuan.... perempuan.... ga selamanya hanya berada didapur, berkutat dengan segala macam rutinitas rumah tangga. Masa kini sudah banyak sekali perempuan khususnya ibu rumah tangga yg ikut berpartisipasi dalam dunia kerja. Indikator sosial dan ekonomi mereka biasanya yang membuat mereka memilih bekerja. Ga ada lg perbedaan gender yang biasa di monopoli oleh kaum adam, dan ini disebabkan salah satunya adalah disfungsional keluarga dan hubungan rumah tangga. Bagaimana membantu kaum pria merubah pola pikir yang ada agar kemajuan perempuan tidak harus dibayar mahal tampaknya memerlukan perhatian lebih.

Imej umum lelaki adalah sebagai sosok pencari nafkah yang kuat dan gigih. Dan perempuan digambarkan sebagai ibu rumah tangga yang menunggu dengan setia kepulangan suami dari tempat kerja. Pria sering terjebak dalam imej sebagai pencari nafkah dan ongkos psikologis dari kegagalan memenuhi peran ini dapat luar biasa. Apa yang terjadi apabila peran gender yang sudah mentradisi ini di redifinisi kembali, khususnya di lingkungan kelas menengah ke atas, yang sering ditimbulkan oleh kebutuhan dan tantangan ekonomi baru? Perempuan sebagai tenaga kerja disukai karena kesediaan mereka melakukan pekerjaan dengan gaji lebih rendah, adanya komitmen dan rasa tanggung jawab serta cocoknya pada sejumlah pekerjaan tertentu.

Tetapi apa yang akan terjadi saat pembalikan peran rumah tangga terjadi dan perempuan menjadi pencari nafkah? ada beberapa kasus...contohnya seorang ibu rumah tangga sekaligus pencari nafkah...malah lebih memilih bekerja dibanding kesibukkannya sebagai seorang istri dan ibu..

Dengan kompromi yang tak jelas pasangan suami istri yg menghadapi dilema seperti ini, akan merasa begitu semakin lebarnya jurang pemisah antara keluarga dan faktor ekonomi, apa yang harus dilakukan jadi semakin membuat beban dan tanggung jawab masing2 ibarat benang kusut yang tak bisa diurai.... pembagian tanggung jawab, kebutuhan ekonomi dan yang terutama adalah keegoisan diri untuk mencapai titik pengakuan. Siapa yang paling berjasa dalam rumah tangga ini...??? dan siapa yang tidak punya peran sama sekali...???

Sebenarnya inti dari semua itu haruslah mengakar dari awal pembentukkan keluarga, kesadaran akan peran dan tanggung jawab serta pengertian yang tanpa batas bagi pasangan suami istri, bukan berarti dengan demikian masalah tidak ada dalam setiap hubungan, tp ini setidaknya memberikan ruang yg semakin sempit untuk perbedaan.


Baik dan buruknya Perempuan Bekerja

Tidak melulu setiap perempuan yang sdh berumah tangga dan mempunyai aktifitas kerja yang padat di definisikan sebagai perempuan yang kebal rasa atau tidak mempunyai tanggung jwab di rumah, masih banyak perempuan2 yang bisa memanage waktu dan diri dengan 2 peran sekaligus, memang diperlukan pengorbanan dan kebesaran hati untuk peran ini, tp mengingat akan maksud awal kaum perempuan bekerja adalah untuk keluarga, saya percaya bahwa perempuan2 seperti ini sangat bisa mengatur semua.. kita bukan manusia sempurna, masih bs mengeluh dan menggerutu, itu wajar..Tapi haruslah ingat jika dalam kesesakkan kita masih bersyukur, berarti di waktu kelegaan kita pasti akan lebih bersyukur.

Dan bagaimana kita bisa tau ternyata pilihan kita untuk bekerja adalah salah...?????, kita kembali lg keawal... kita meninggalkan keluarga untuk aktifitas kita yang satu ini, otomatis pendelegasian tanggung jawab harus kita serahkan ke pihak ketiga, kita perlu sharing dengan pasangan dan ini bukan tugas yang mudah. Jika semua sudah matang kita persiapkan, niscaya kedepan konflik2 besar tidak akan muncul.

Dengan adanya peran ganda ini, janganlah membuat kita merasa sebagai pihak yang teraniaya dan tertekan, itu sudah awal dr pelampiasan hati untuk mencari kelapangan rasa.... dan yang paling ditakuti akan banyaknya godaan dalam dunia kerja, bagi kaum perempuan kebutuhan akan keegoisan waktu dan pengakuan pasti akan sering muncul, itu semakin membuka jalan untuk mencari pelampiasan hati, dari sekedar "me time" bersama teman2, hang out, dinner, shopping sampai akhirnya keberalihan hati dari pasangan dan keluarga. Masalah ini adalah yang paling banyak kita liat dalam "real life", dan niat awal kita malah tidak menjadi dasar utama lagi kita bekerja....

Perselingkuhan, ada yang menganggap ini adalah perubahan jaman, trend terbaru bahkan hanya sekedar sensasi. Tersadar bahwa ternyata ini adalah "Big Problem", jangan abaikan tanda2 ini, jangan abaikan perasaan pasangan kita dan keluarga, mereka tidak layak mendapatkan sepotong hati yang bahkan telah carut marut oleh hal "trendy" ini.


Penutup

Ingatlah, setiap kita keluar dari rumah, kita membawa kehormatan suami, keluarga dan diri kita sendiri, jika kita tidak bisa menjaga itu, apa yang akan terjadi pada suami dan anak2 kita... kita hanya bisa di cap sebagai perempuan dengan berbagai macam cap negatif

Cinta itu bukan sekedar masalah hati, itu benar..ada hal2 lain di sekeliling cinta, ekonomi, keinginan yang lebih, kebutuhan yang dramatisir. Tapi Cinta sejati tidak mengenal itu, tidak mengenal seberapa banyak kita berkorban untuk itu, sebarapa banyak kita menderita karena itu, seberapa banyak kita menghabiskan waktu demi itu. Hargai Cinta...hargai suami, keluarga...kita pasti akan merasa punya banyak cinta... dan jika hanya karena ekonomi kt beralih dari cinta, betapa naif dan tak bersyukurnya kita.


Selamat bekerja ibu...jadikan tiap langkahmu sebagai permata yang dapat menghiasi keluarga... dari ibu lah akan muncul setiap generasi yang hebat.



Note

kujadikan tulisan ku ini sebagai bahan pembenahan diri dan hati ku....

♥untuk suami dan anak2ku....♥



by: Dewi Yovanka Hutagalung


No comments:

Post a Comment