Tubuh kurus itu kontras sekali dengan tingginya gedung-gedung dan bisingnya deru mesin kendaraan , tempat ia berpijak. Terlihat seperti akan menerkam dan menindihnya....
Dengan ringannya ia berlari dan mencoba menyusul kendaraan umum yang tepat beriringan disampingnya....dan dengan sekali loncatan kecil ia mampu menginjakkan kakinya, tepat satu langkah disisi pintu masuk bis tersebut. Sambil menghapus peluh dengan tangan kiri dekilnya, ia tersenyum, ditangan kanannya terlihat sepotong kayu kecil yang sudah terpasang beberapa tutup bekas minuman ringan. Dan nyanyian yang keluar dari mulut mungilnya itu tiba-tiba terdengar sangat lirih diantar hiruk pikuk penumpang bis tersebut.
"Lupa...lupa...lupa lagi judulnya....lupa lagi liriknya"
ia nyanyikan dengan nada dan syair sekenanya dan tentunya dengan tangan kanan yang memegang tongkat kecil itu ia gerakkan kekanan dan kekiri, sedikit megeluarkan bunyi seperti musik yang mengiringi nyanyiannya, dan bibirnya tetap tersenyum, beberapa pasang mata melirik iba, lalu coba memperhatikannya, terlihat sekali bukan sedang menikmati nyanyiannya, tp hanya memandang senyumnya, mungkin mereka sedang menerka-nerka dari mana asal senyuman itu, atau tidaklah aneh lagi dengan pemandangan seperti ini, besarnya kota ini memang hampir semua penghuninya dari berbagai kalangan dan bahkan kalangan seperti ini hampir ditemui di tiap lampu merah, kendaraan umum, dan disetiap sudut kota. Yah...kalangan tertindas, para pengemis, pengamen dan kaum gelandangan lainnya.
Tapi ada yang berbeda terlihat dari anak itu, senyum kecilnya bisa dibilang mengudang rasa iba setiap melihatnya, belum lagi tatapan matanya yang seakan menjelajahi semua sudut, seperti mencari sesuatu, seperti berharap sesuatu.
"Terimakasih dan selamat sampai ditujuan...."
mulut kecil itu bersuara sambil mengeluarkan kantong plastik kecil dari saku celana kumalnya, ia berjalan dan menghampiri penumpang bis satu persatu, dan tetap senyum itu terlihat.
Dia turun di halte itu, pas dengan decitan rem dari bis itu...yahh...hampir bersamaan.
Dan lupa lah semua penumpang bis tersebut, bahwa barusan ada seorang anak kecil bertubuh kurus pernah menyanyikan mereka lagu....
Dia membuka kantong plastik yang sedari tadi ia pegang dengan erat, seperti harta paling berharga yang ia miliki, ia buka dan sekilas ia tersenyum kembali...
"Aku bisa membeli nasi bungkus depan rel kereta itu sekarang...hhhh...."
Yahhhh...tubuh kurus itu hanya mampu membeli makanan untuk satu kali makan saja sehari dan itupun kalau ia kuat berjalan dan berlari untuk mengamen, pernah beberapa kali ia tak mengamen, ia merasa sakit perut atau kepalanya terasa dikelilingi bintang-bintang seperti banyak orang bilang, ia hanya tiduran dan perutnya tambah melilit karena menahan rasa lapar yang hebat, hanya roti dari bu karsih yang membantu meringankan rasa sakit perutnya, lalu ia berjanji untuk mengembalikan roti itu nantinya, setelah ia mengamen kembali, walau roti itu terlihat kasar tapi sangat enak sekali saat ia mengunyahnya, ia melirik bu karsih...
"bu...besok, saya akan mengamen lagi, nanti saya belikan roti untuk ibu dan culik yah...."
"tidak usah le...ibu dan culik sudah makan, besok jg kami akan punya makanan lain..."
Bu karsih, seorang ibu dengan bayinya tinggal disamping, kalau boleh ia sebut rumahnya...yahh...mereka tinggal di pinggir rel kereta api dengan kardus-kardus yang mereka susun sebagai tempat berteduh mereka. Bagi mereka inilah yang tempat paling nyaman buat mereka menghindari angin, matahari dan hujan, sesekali mereka juga mengganti kardus-kardus lama mereka dengan yang baru, tentunya saja mereka dapati itu dari jalan, untung-untungan kardus itu masih bersih dan masih kokoh...pikir mereka lumayanlah....
Dan siang ini, matahari seperti biasanya teriknya, tubuh kecil itu kini berjalan gontai menghampiri warung nasi pinggir kereta...
"bu...saya beli nasi dengan tempe goreng dan sayur apa saja, secukupnya uang saya bu...."
Ibu warung mengambil receh yang ia sodorkan, dan mulai membungkus nasi satu sendok besar penuh, lalu ibu itu melihat sekilas kearah anak itu, dan ia tambahkan lagi separuh sendok besar, tempe goreng dan sayur tumis toge ia masukkan kedalam bungkusan nasi tersebut.
"ini le....ibu tambahin nasinya, biar kamu kuat, jangan lupa ini air minumnya dibawa", sambil menyodorkan bungkusan nasi dan satu plastik berisi air putih.
"Terima kasih bu......"
Ia tersenyum puas....
Makanan itu terasa nikmat luar biasa, dengan tubuh kecilnya bisa terlihat bahwa ia hanya makan makanan seadanya tidak terbanyangkan dengan makanan lezat dan bergizi lainnya yang sering kali ia temui di rumah makan besar lainnya...tapi ia menikmati itu.
Ia pulang ketempat rumah kardusnya yang kecil...duduk dengan tenang, memperhatikan bu karsih dan culik yang juga baru tiba
"hmmm...ada roti buat kalian..."
Tadi ia mendapatkan satu buah roti di warung nasi depan rel kereta
"roti rasa coklat, enak ga bu...?"
"enak le...ambil saja itu bonus, karena kamu sering beli tempe goreng ibu...hehehehe"
"aku mau bayar bu...ini ada sedikit sisa dari hasil ngamenku..."
"tidak usah bayar le... simpan saja, besok kamu mampir sini lagi yah..."
"banyak terimakasih bu...."
Dan sekarang roti itu ada ditangannya, ia berlari kecil menghampiri bu karsih....
"bu...ini ada roti buat culik, rasa coklat...enak sekali bu...."
Bu karsih memandang dengan takjub ke arah roti yang ia sodorkan
"tapi le...apa kamu sudah makan...??"
"sudah bu...ambil saja, culik pasti senang..."
"iya le...culik ga mau makan dari pagi, tapi kalau roti, mungkin ia mau, terimakasih le...."
Bu karsih mengambil roti itu dan berlalu menuju rumah kardusnya...
Untuk anak seusia dia dan dengan keaadaannya, berbagi adalah hal yang sangat sulit, tapi ia hanya punya bu karsih sekarang, ia juga tidak mau kehilangan bu karsih dan culik.
Ia tidak mau kehilangan meraka seperti ia kehilangan emak....
Masih teringat jelas bayangan emak 2 tahun lalu, saat menemukan dirinya terkatung-katung di pinggir rel kereta itu, menangis dan bingung, emak menghampirinya
"kamu siapa le...?? kenapa kamu ada disini...?? orang tuamu mana...??"
Ia tidak bisa berkata-kata hanya tangisan dan airmata yang terlihat, emak menemaninya sampai ia berhenti menangis
"aku mau mencari orang tua ku....."
Ia berkata lirih
"orang tuamu dimana le...??"
Emak menyahut dengan segera
"aku tidak tahu...."
sekarang ia menundukkan kepalanya
"lalu kamu darimana??? dan mengapa kamu mencari orang tuamu disini...??
Tapi ia kembali terisak dan menangis, malah semakin kencang, emak merangkulnya dan berkata
"panggil aku emak, ikut emak ke rumah mak yah..."
yahh...rumah kardus itu, yang sekarang ia tempati, dulu emak yang memberi ia makan, dan biasanya emak pulang ke rumah kardus tepat siang hari dengan membawa makanan dan karung berisi bermacam-macam barang rongsokan. Sambil menemani makan, emak sesekali bertanya tentang dirinya....
Emak Tahu sekarang kalau ia pergi dari rumah yatim piatu dua hari yang lalu, untuk mencari keluarga dan orang tuanya, dan emak juga tahu bahwa ia akan membutuhkan waktu yang lama untuk mencari mereka.
Rumah yatim piatu itu tampak asri walau kecil, ia tinggal disana hampir 10 tahun, pas dengan umurnya, biasanya dia tidak bertanya kepada pengurus rumah yatim piatu itu tentang asal-usulnya, yang ia tahu itu memang rumahnya, tapi sekarang ia semakin besar, ia melihat sebagian teman-teman lainnya sering didatangi keluarga atau orang tua mereka, biasanya ia melihat mereka tertawa dan bermain bersama sambil membuka oleh-oleh yang dibawa oleh orangtua mereka, ada makanan, buku dan hasil kebun, mereka ternyata dititip sementara oleh orang tua mereka, karena tidak sanggup untuk menyekolahkan mereka, tapi orang tua mereka selalu datang menjenguk setiap musim liburan, tidak seperti dirinya...yang ia tahu bahwa ia tinggal di rumah ini sejak dilahirkan, dan penghuni rumah ini adalah keluarganya.
Umurnya menginjak hampir 10 tahun, pertanyaan-pertanyaan besar itu semakin mengelitik hati dan pikirannya, ia ingin tahu, darah siapa yang mengalir dalam tubuhnya, mirip siapakah ia, apakah ia mempunyai adik atau kakak, seperti apa wajah kedua orang tuanya. Ia tidak mempunyai keberanian untuk bertanya lebih detail kepada pengurus panti, karena ia tahu jawabannya tetap sama seperti beberapa minggu kemarin, dimana ia mulai bertanya tentang asal-usulnya. Ia harus mencari tahu sendiri....Tapi ia bingung memulai dari mana pencariannya.
Dan suatu pagi, saat ia terbangun lebih awal dari biasanya, saat teman-teman dan semua penghuni rumah yatim ini masih terlelap, ia duduk dipinggir tempat tidur kecilnya, hati dan pikirannya berkecamuk, ia berdiri dan berjalan menuju pintu rumah yatim itu, angin pagi hari yang dingin terasa membelai kulitnya, sesekali ia rapatkan kedua tangannya didada. Ia berjalan perlahan keluar dari rumah itu, tatapannya penuh kepercayaan diri dan senyum itu semakin mengembang, perlahan langkah kaki kecilnya semakin cepat dan lalu ia berlari kecil seperti hendak menyongsong sesuatu yang ia mimpikan selama ini.
Tanpa menoleh kebelakang lagi ia berpikir
"aku akan menemukan orang tuaku, keluargaku...aku akan hidup bersama mereka, apapun keaadaan mereka...."
Pikirnya ia akan menjelajahi setiap sudut kota besar ini, ia pasti menemukan mereka, ia yakin bahwa orang tuanya pasti akan mengenalinya bila berjumpa dijalan.
Hingga hari ke dua, ia masih berjalan menyusuri jalan-jalan di kota besar itu, ia lapar, haus, ia hanya mendapatkan makanan dari sisa-sisa makanan yang dibuang oleh rumah makan selewat ia berjalan, bajunya kusam dan dekil, tubuhnya lemah, jalannya semakin lambat, hanya mata dan senyumannya yang tidak berubah.
Dan siang itu dipinggir rel kereta ia tak sanggup menahan kelelahan dan kesedihan hatinya, ia tak mau kembali ke rumah yatim itu, ia hanya ingin mencari keluarganya, atau bapaknya, atau hanya ibunya saja, hatinya rindu ingin sekali melihat wajah ibunya, ingin merasakan pelukkannya, akhirnya ia menangis tersedu-sedu, betapa sakit hatinya membayangkan sosok ibu yang ia rindukan. Dan sesosok wanita tua berjalan kearahnya dengan lembut menyapanya, hampir ia pikir itu adalah ibunya, hampir ia peluk untuk melampiaskan kerinduannya, tapi ia hanya terduduk dan menangis, itu emak, seorang wanita tua renta yang hidup sendiri sama seperti dirinya. Emak yang menolong dan memeluk erat dirinya, emaknya memberikan ia makan, minum, dan rumah kardus tempat ia berteduh.
Kadang-kadang mereka berjalan bersama menyusuri kota, mencari barang-barang rongsokkan, mereka bergandengan tangan, sambil sesekali tertawa dan berbincang-bincang, hari .....biasanya tak terasa, dan emak sudah mengumpulkan banyak sekali barang-barang yang akan ditukarkan dengan receh, biasanya emak mendatangi sebuah tempat yang ia lihat banyak sekali orang-orang berdatangan dengan membawa berkarung-karung barang rongsokkan, mereka terlihat berbaris menimbang barang-barang rongsokkan tersebut, lalu mereka mendapatkan beberapa receh atau bahkan beberapa lembar uang kertas, tp ia melihat emak selalu hanya mendapatkan receh saja. Emak tetap senang dan bahkan berjanji akan membelikan ia baju baru untuk ia pakai kalau bertemu dengan orang tuanya, hatinya senang berbunga membayangkan, ia memakai baju baru yang bersih dan orang tuanya menemukannya.
"nanti kalau aku bertemu dengan bapak dan ibu...emak harus ikut yah....kita makan yang enak ya...mak..." ujarnya
Emak hanya tersenyum dan semakin erat menggandeng tangannya.
Dan Malam itu, tepat 2 tahun ia tinggal bersama emak, ia terbangun, mendapati suara erangan ringan yang keluar dari mulut emak. Ia mendekati emak, mencoba membangunkannya, tapi emak diam saja, hanya suara erangan itu semakin keras, ia mulai merasa takut. Apa emak sakit lagi...beberapa bulan ini emak memang sering sakit-sakitan, kaki kanannya membengkak, emak tak bisa berjalan, biasanya ia membantu emak dengan memasakkan air untuk merendam kaki emak. Emak tidak pernah mengeluh, emak bilang ia tidak sakit, hanya kakinya saja yang sudah tua, sudah banyak dipakai berjalan kata emak. Tapi kali ini tubuh emak terasa panas dan kaki emak semakin membengkak dan suara erangan emak semakin keras. Ia takut sekali, dan bingung harus berbuat apa, ia keluar dari rumah kardus itu, memanggil bu karsih....tapi bu karsih tidak ada, ia tidak tahu kemana bu karsih dan culik pergi. Ia berlari menyusuri rel kereta di tengah malam itu, berharap menemui seseorang, tapi ia hanya sendiri dengan kesunyian malam itu, bahkan ia bisa mendengar jelas, suara detak jantungnya sendiri. Nafasnya tersengal-sengal, dengan putus asa ia kembali ke rumah kardus tempat ia tinggal bersama emak. Dari luar ia tidak lagi mendengar suara erangan emak, hatinya sedikit lega. Ia menghampiri emak, ia lihat emak tertidur, tenang sekali. Ia memeluk emak berharap emak akan merasa nyaman dengan pelukkannya, tapi emak diam saja, bahkan sama sekali tak bergerak, ia mulai membangunkan emak dan akhirnya mengguncang-guncangkan tubuh emak. Emak tetap terdiam, ia mulai menangis sejadi-jadinya, ia sangat takut, sangat bingung dan sangat sedih. Emak tidak pernah terbangun lagi.
Ia sendiri lagi, ia belum pernah memakai baju baru yang sempat emak belikan, baju putih bercorak itu masih tersimpan rapi dipojok rumah kardusnya. Emak bilang ia terlihat gagah memakai baju itu, emak tersenyum bangga melihatnya.
Hari-hari ia lewati dengan kesendiriannya, ia bertekad terus mencari orangtuanya, ia ingin mereka melihatnya memakai baju baru pemberian emak, tapi ia sering sekali merasa lapar, ketika ia melihat dijalan banyak sekali anak-anak seusianya menghampiri setiap kendaraan yang berhenti di lampu merah, mereka ada yang bernyanyi, menawarkan koran atau majalah, dan ia juga melihat mereka mendapatkan upah setelah bernyanyi dan berjualan. Ia mulai berpikir untuk mengikuti mereka, tapi ia tidak mau hanya berada di lampu merah saja, mana bisa ia menemukan orang tuanya hanya di depan lampu merah itu. Ia memilih memasuki bis-bis besar dan mengikuti kemana saja bis itu membawanya, harapannya ia akan mempunyai banyak kesempatan untuk menemukan orang tuanya.
Dan sampai hari ini, ia belum juga menemukan mereka, hatinya perih setiap mengingat emak, membayangkan hari-hari lalu yang ia lewati bersama emak, ia belum pernah memiliki seseorang dan ia juga belum pernah merasa kehilangan seperti ini.
Pagi itu, bu karsih tidak melihat dirinya seperti hari-hari kemarin, lalu bu karsih mendatangi rumah kardusnya.
"le....apa kamu sakit...???? kenapa kamu tidak keluar....??"
"aku hanya sedikit sakit perut bu, mungkin sebentar lagi sembuh...."
"mau ibu kasih minyak urut buat perutmu le...???"
"mau bu....rasanya perutku sakit sekali...."
Bu karsih membalur perutnya dengan minyak urut, ia terlihat senang.
"terimakasih bu, sepetinya perutku sudah membaik...."
"istirahat le...nanti ibu carikan makanan untuk mu...."
sahut bu karsih.
Ia tertidur pulas, dan rasa sakit itu belum juga hilang. Ketika ia membuka mata, hari telah malam, ia menemukan sebungkus nasi dan air tepat disebelahnya, pasti bu karsih yang menaruhnya, ia membuka bungkusan nasi itu dan coba memakannya, terasa pahit di mulutnya, tapi ia lapar, perlahan ia makan dan ia tidak bisa menghabiskan makanannya itu, perutnya terasa keras, ia coba berdiri tapi kakinya lemah tak kuat menopang tubuh kurusnya, ia hanya duduk dan meringis, air matanya mengalir menahan sakitnya. Ia kembali teringat emak dan kerinduannya akan orang tuanya, ibunya. Ia selalu membayangkan wajah ibu yang belum pernah ia temui, pasti ibuku sangat cantik, pikirnya... setiap ia melewati toko roti dekat rumah kardusnya, ia sangat senang membaui aroma roti yang baru matang, sangat harum, hangat, terbayang di benaknya aroma hangat itu adalah aroma tubuh ibunya yang ingin ia peluk. Lalu ia berusaha menggapai baju baru pemberian emak, ia memakai baju baru itu, ia juga bisa merasakan aroma roti baru matang itu sekarang. Ia berpikir, pasti malam ini ibunya akan menemukannya disini, ia harus tampak gagah dah kuat, ia tidak mau ibunya melihat ia sakit dan lemah. Ibunya pasti akan membawanya keluar dari rumah kardus ini, ia akan tinggal bersama ibunya di rumah yang kecil dan indah, ibunya akan memberikan ia makanan yang enak dan tentu saja roti hangat itu, ia akan bermain bersama ibunya ditaman kecil, dan malam hari saat ia terkantuk, ibunya akan memeluknya erat dan bernyanyi menemani tidurnya, dan disaat pagi hari ketika ia membuka mata, ibu sudah ada disampingnya, memberikan senyuman dan salam selamat pagi.
Lilin itu semakin kecil dan redup, ia tertidur kembali dengan baju barunya, sesekali ia membuka matanya, untuk melihat apakah ibunya sudah datang. Perutnya semakin keras, kaku dan tegang, sakit luar biasa, ia tak sanggup mengeluarkan suara untuk memanggil bu karsih. Ia hanya melihat kearah lilin yang semakin redup itu, angin malam juga semakin terasa menusuk sampai terasa ke tulang-tulangnya, ia menggigil, pandangannya nanar, mulutnya bergetar, ia merasa sangat haus, sakit dan kedinginan, tapi ia sudah tidak sanggup untuk melakukan apa-apa. Lilin itu begitu redup...sangat redup....ia tersenyum dari mulutnya terdengar pelan sekali....
"iiiiibbbbuuuu...."
Dan lilin itu mati, tidak ada sinar lagi, ia takut sekali akan kegelapan, Gelap yang pekat dan sunyi, ia merasa sangat sendiri. Ia coba gerakkan kakinya, hhmmmm.....dia bisa menggerakkannya, ia juga tidak merasa sakit dan kedinginan lagi, gelap ini nyaman sekali, membuat rasa sakitnya hilang, dan hatinya tidak bersedih lagi, ia merasa tenang dan bahagia. Lalu gelap itu hilang, ia bisa melihat sekeliling rumah kardusnya kembali, dan saat itu matanya langsung tertuju pada satu sosok anak kecil yang terbaring lemah dengan senyum yang hangat.
Lilin itu redup kembali..........
==========================================================
Bandung 7-9 Desember 2009
original by : Dewi Yovanka Hutagalung
Note
3 hari ku coba membuat cerpen ini, cukup lama ide cerpen ini ada, dan perlu waktu untuk menuangkannya ke dalam tulisan, dengan keterbatasan waktu karena kesibukkan ku sebagai seorang ibu dan pekerja, hari ini bisa kurampungkan.
Mudah-mudahan berkenan buat teman-teman
Selamat menikmati kebersamaan bersama keluarga anda
Jadikan keluarga nomor satu dalam hidup anda
Anak adalah buah hati yang rapuh, tanpa kita ia akan redup seperti lilin yang habis perlahan-lahan.
Kupersembahkan tulisan ku ini untuk kedua buah hatiku
Kasih cintaku sepanjang masa untuk kalian.
Dengan ringannya ia berlari dan mencoba menyusul kendaraan umum yang tepat beriringan disampingnya....dan dengan sekali loncatan kecil ia mampu menginjakkan kakinya, tepat satu langkah disisi pintu masuk bis tersebut. Sambil menghapus peluh dengan tangan kiri dekilnya, ia tersenyum, ditangan kanannya terlihat sepotong kayu kecil yang sudah terpasang beberapa tutup bekas minuman ringan. Dan nyanyian yang keluar dari mulut mungilnya itu tiba-tiba terdengar sangat lirih diantar hiruk pikuk penumpang bis tersebut.
"Lupa...lupa...lupa lagi judulnya....lupa lagi liriknya"
ia nyanyikan dengan nada dan syair sekenanya dan tentunya dengan tangan kanan yang memegang tongkat kecil itu ia gerakkan kekanan dan kekiri, sedikit megeluarkan bunyi seperti musik yang mengiringi nyanyiannya, dan bibirnya tetap tersenyum, beberapa pasang mata melirik iba, lalu coba memperhatikannya, terlihat sekali bukan sedang menikmati nyanyiannya, tp hanya memandang senyumnya, mungkin mereka sedang menerka-nerka dari mana asal senyuman itu, atau tidaklah aneh lagi dengan pemandangan seperti ini, besarnya kota ini memang hampir semua penghuninya dari berbagai kalangan dan bahkan kalangan seperti ini hampir ditemui di tiap lampu merah, kendaraan umum, dan disetiap sudut kota. Yah...kalangan tertindas, para pengemis, pengamen dan kaum gelandangan lainnya.
Tapi ada yang berbeda terlihat dari anak itu, senyum kecilnya bisa dibilang mengudang rasa iba setiap melihatnya, belum lagi tatapan matanya yang seakan menjelajahi semua sudut, seperti mencari sesuatu, seperti berharap sesuatu.
"Terimakasih dan selamat sampai ditujuan...."
mulut kecil itu bersuara sambil mengeluarkan kantong plastik kecil dari saku celana kumalnya, ia berjalan dan menghampiri penumpang bis satu persatu, dan tetap senyum itu terlihat.
Dia turun di halte itu, pas dengan decitan rem dari bis itu...yahh...hampir bersamaan.
Dan lupa lah semua penumpang bis tersebut, bahwa barusan ada seorang anak kecil bertubuh kurus pernah menyanyikan mereka lagu....
Dia membuka kantong plastik yang sedari tadi ia pegang dengan erat, seperti harta paling berharga yang ia miliki, ia buka dan sekilas ia tersenyum kembali...
"Aku bisa membeli nasi bungkus depan rel kereta itu sekarang...hhhh...."
Yahhhh...tubuh kurus itu hanya mampu membeli makanan untuk satu kali makan saja sehari dan itupun kalau ia kuat berjalan dan berlari untuk mengamen, pernah beberapa kali ia tak mengamen, ia merasa sakit perut atau kepalanya terasa dikelilingi bintang-bintang seperti banyak orang bilang, ia hanya tiduran dan perutnya tambah melilit karena menahan rasa lapar yang hebat, hanya roti dari bu karsih yang membantu meringankan rasa sakit perutnya, lalu ia berjanji untuk mengembalikan roti itu nantinya, setelah ia mengamen kembali, walau roti itu terlihat kasar tapi sangat enak sekali saat ia mengunyahnya, ia melirik bu karsih...
"bu...besok, saya akan mengamen lagi, nanti saya belikan roti untuk ibu dan culik yah...."
"tidak usah le...ibu dan culik sudah makan, besok jg kami akan punya makanan lain..."
Bu karsih, seorang ibu dengan bayinya tinggal disamping, kalau boleh ia sebut rumahnya...yahh...mereka tinggal di pinggir rel kereta api dengan kardus-kardus yang mereka susun sebagai tempat berteduh mereka. Bagi mereka inilah yang tempat paling nyaman buat mereka menghindari angin, matahari dan hujan, sesekali mereka juga mengganti kardus-kardus lama mereka dengan yang baru, tentunya saja mereka dapati itu dari jalan, untung-untungan kardus itu masih bersih dan masih kokoh...pikir mereka lumayanlah....
Dan siang ini, matahari seperti biasanya teriknya, tubuh kecil itu kini berjalan gontai menghampiri warung nasi pinggir kereta...
"bu...saya beli nasi dengan tempe goreng dan sayur apa saja, secukupnya uang saya bu...."
Ibu warung mengambil receh yang ia sodorkan, dan mulai membungkus nasi satu sendok besar penuh, lalu ibu itu melihat sekilas kearah anak itu, dan ia tambahkan lagi separuh sendok besar, tempe goreng dan sayur tumis toge ia masukkan kedalam bungkusan nasi tersebut.
"ini le....ibu tambahin nasinya, biar kamu kuat, jangan lupa ini air minumnya dibawa", sambil menyodorkan bungkusan nasi dan satu plastik berisi air putih.
"Terima kasih bu......"
Ia tersenyum puas....
Makanan itu terasa nikmat luar biasa, dengan tubuh kecilnya bisa terlihat bahwa ia hanya makan makanan seadanya tidak terbanyangkan dengan makanan lezat dan bergizi lainnya yang sering kali ia temui di rumah makan besar lainnya...tapi ia menikmati itu.
Ia pulang ketempat rumah kardusnya yang kecil...duduk dengan tenang, memperhatikan bu karsih dan culik yang juga baru tiba
"hmmm...ada roti buat kalian..."
Tadi ia mendapatkan satu buah roti di warung nasi depan rel kereta
"roti rasa coklat, enak ga bu...?"
"enak le...ambil saja itu bonus, karena kamu sering beli tempe goreng ibu...hehehehe"
"aku mau bayar bu...ini ada sedikit sisa dari hasil ngamenku..."
"tidak usah bayar le... simpan saja, besok kamu mampir sini lagi yah..."
"banyak terimakasih bu...."
Dan sekarang roti itu ada ditangannya, ia berlari kecil menghampiri bu karsih....
"bu...ini ada roti buat culik, rasa coklat...enak sekali bu...."
Bu karsih memandang dengan takjub ke arah roti yang ia sodorkan
"tapi le...apa kamu sudah makan...??"
"sudah bu...ambil saja, culik pasti senang..."
"iya le...culik ga mau makan dari pagi, tapi kalau roti, mungkin ia mau, terimakasih le...."
Bu karsih mengambil roti itu dan berlalu menuju rumah kardusnya...
Untuk anak seusia dia dan dengan keaadaannya, berbagi adalah hal yang sangat sulit, tapi ia hanya punya bu karsih sekarang, ia juga tidak mau kehilangan bu karsih dan culik.
Ia tidak mau kehilangan meraka seperti ia kehilangan emak....
Masih teringat jelas bayangan emak 2 tahun lalu, saat menemukan dirinya terkatung-katung di pinggir rel kereta itu, menangis dan bingung, emak menghampirinya
"kamu siapa le...?? kenapa kamu ada disini...?? orang tuamu mana...??"
Ia tidak bisa berkata-kata hanya tangisan dan airmata yang terlihat, emak menemaninya sampai ia berhenti menangis
"aku mau mencari orang tua ku....."
Ia berkata lirih
"orang tuamu dimana le...??"
Emak menyahut dengan segera
"aku tidak tahu...."
sekarang ia menundukkan kepalanya
"lalu kamu darimana??? dan mengapa kamu mencari orang tuamu disini...??
Tapi ia kembali terisak dan menangis, malah semakin kencang, emak merangkulnya dan berkata
"panggil aku emak, ikut emak ke rumah mak yah..."
yahh...rumah kardus itu, yang sekarang ia tempati, dulu emak yang memberi ia makan, dan biasanya emak pulang ke rumah kardus tepat siang hari dengan membawa makanan dan karung berisi bermacam-macam barang rongsokan. Sambil menemani makan, emak sesekali bertanya tentang dirinya....
Emak Tahu sekarang kalau ia pergi dari rumah yatim piatu dua hari yang lalu, untuk mencari keluarga dan orang tuanya, dan emak juga tahu bahwa ia akan membutuhkan waktu yang lama untuk mencari mereka.
Rumah yatim piatu itu tampak asri walau kecil, ia tinggal disana hampir 10 tahun, pas dengan umurnya, biasanya dia tidak bertanya kepada pengurus rumah yatim piatu itu tentang asal-usulnya, yang ia tahu itu memang rumahnya, tapi sekarang ia semakin besar, ia melihat sebagian teman-teman lainnya sering didatangi keluarga atau orang tua mereka, biasanya ia melihat mereka tertawa dan bermain bersama sambil membuka oleh-oleh yang dibawa oleh orangtua mereka, ada makanan, buku dan hasil kebun, mereka ternyata dititip sementara oleh orang tua mereka, karena tidak sanggup untuk menyekolahkan mereka, tapi orang tua mereka selalu datang menjenguk setiap musim liburan, tidak seperti dirinya...yang ia tahu bahwa ia tinggal di rumah ini sejak dilahirkan, dan penghuni rumah ini adalah keluarganya.
Umurnya menginjak hampir 10 tahun, pertanyaan-pertanyaan besar itu semakin mengelitik hati dan pikirannya, ia ingin tahu, darah siapa yang mengalir dalam tubuhnya, mirip siapakah ia, apakah ia mempunyai adik atau kakak, seperti apa wajah kedua orang tuanya. Ia tidak mempunyai keberanian untuk bertanya lebih detail kepada pengurus panti, karena ia tahu jawabannya tetap sama seperti beberapa minggu kemarin, dimana ia mulai bertanya tentang asal-usulnya. Ia harus mencari tahu sendiri....Tapi ia bingung memulai dari mana pencariannya.
Dan suatu pagi, saat ia terbangun lebih awal dari biasanya, saat teman-teman dan semua penghuni rumah yatim ini masih terlelap, ia duduk dipinggir tempat tidur kecilnya, hati dan pikirannya berkecamuk, ia berdiri dan berjalan menuju pintu rumah yatim itu, angin pagi hari yang dingin terasa membelai kulitnya, sesekali ia rapatkan kedua tangannya didada. Ia berjalan perlahan keluar dari rumah itu, tatapannya penuh kepercayaan diri dan senyum itu semakin mengembang, perlahan langkah kaki kecilnya semakin cepat dan lalu ia berlari kecil seperti hendak menyongsong sesuatu yang ia mimpikan selama ini.
Tanpa menoleh kebelakang lagi ia berpikir
"aku akan menemukan orang tuaku, keluargaku...aku akan hidup bersama mereka, apapun keaadaan mereka...."
Pikirnya ia akan menjelajahi setiap sudut kota besar ini, ia pasti menemukan mereka, ia yakin bahwa orang tuanya pasti akan mengenalinya bila berjumpa dijalan.
Hingga hari ke dua, ia masih berjalan menyusuri jalan-jalan di kota besar itu, ia lapar, haus, ia hanya mendapatkan makanan dari sisa-sisa makanan yang dibuang oleh rumah makan selewat ia berjalan, bajunya kusam dan dekil, tubuhnya lemah, jalannya semakin lambat, hanya mata dan senyumannya yang tidak berubah.
Dan siang itu dipinggir rel kereta ia tak sanggup menahan kelelahan dan kesedihan hatinya, ia tak mau kembali ke rumah yatim itu, ia hanya ingin mencari keluarganya, atau bapaknya, atau hanya ibunya saja, hatinya rindu ingin sekali melihat wajah ibunya, ingin merasakan pelukkannya, akhirnya ia menangis tersedu-sedu, betapa sakit hatinya membayangkan sosok ibu yang ia rindukan. Dan sesosok wanita tua berjalan kearahnya dengan lembut menyapanya, hampir ia pikir itu adalah ibunya, hampir ia peluk untuk melampiaskan kerinduannya, tapi ia hanya terduduk dan menangis, itu emak, seorang wanita tua renta yang hidup sendiri sama seperti dirinya. Emak yang menolong dan memeluk erat dirinya, emaknya memberikan ia makan, minum, dan rumah kardus tempat ia berteduh.
Kadang-kadang mereka berjalan bersama menyusuri kota, mencari barang-barang rongsokkan, mereka bergandengan tangan, sambil sesekali tertawa dan berbincang-bincang, hari .....biasanya tak terasa, dan emak sudah mengumpulkan banyak sekali barang-barang yang akan ditukarkan dengan receh, biasanya emak mendatangi sebuah tempat yang ia lihat banyak sekali orang-orang berdatangan dengan membawa berkarung-karung barang rongsokkan, mereka terlihat berbaris menimbang barang-barang rongsokkan tersebut, lalu mereka mendapatkan beberapa receh atau bahkan beberapa lembar uang kertas, tp ia melihat emak selalu hanya mendapatkan receh saja. Emak tetap senang dan bahkan berjanji akan membelikan ia baju baru untuk ia pakai kalau bertemu dengan orang tuanya, hatinya senang berbunga membayangkan, ia memakai baju baru yang bersih dan orang tuanya menemukannya.
"nanti kalau aku bertemu dengan bapak dan ibu...emak harus ikut yah....kita makan yang enak ya...mak..." ujarnya
Emak hanya tersenyum dan semakin erat menggandeng tangannya.
Dan Malam itu, tepat 2 tahun ia tinggal bersama emak, ia terbangun, mendapati suara erangan ringan yang keluar dari mulut emak. Ia mendekati emak, mencoba membangunkannya, tapi emak diam saja, hanya suara erangan itu semakin keras, ia mulai merasa takut. Apa emak sakit lagi...beberapa bulan ini emak memang sering sakit-sakitan, kaki kanannya membengkak, emak tak bisa berjalan, biasanya ia membantu emak dengan memasakkan air untuk merendam kaki emak. Emak tidak pernah mengeluh, emak bilang ia tidak sakit, hanya kakinya saja yang sudah tua, sudah banyak dipakai berjalan kata emak. Tapi kali ini tubuh emak terasa panas dan kaki emak semakin membengkak dan suara erangan emak semakin keras. Ia takut sekali, dan bingung harus berbuat apa, ia keluar dari rumah kardus itu, memanggil bu karsih....tapi bu karsih tidak ada, ia tidak tahu kemana bu karsih dan culik pergi. Ia berlari menyusuri rel kereta di tengah malam itu, berharap menemui seseorang, tapi ia hanya sendiri dengan kesunyian malam itu, bahkan ia bisa mendengar jelas, suara detak jantungnya sendiri. Nafasnya tersengal-sengal, dengan putus asa ia kembali ke rumah kardus tempat ia tinggal bersama emak. Dari luar ia tidak lagi mendengar suara erangan emak, hatinya sedikit lega. Ia menghampiri emak, ia lihat emak tertidur, tenang sekali. Ia memeluk emak berharap emak akan merasa nyaman dengan pelukkannya, tapi emak diam saja, bahkan sama sekali tak bergerak, ia mulai membangunkan emak dan akhirnya mengguncang-guncangkan tubuh emak. Emak tetap terdiam, ia mulai menangis sejadi-jadinya, ia sangat takut, sangat bingung dan sangat sedih. Emak tidak pernah terbangun lagi.
Ia sendiri lagi, ia belum pernah memakai baju baru yang sempat emak belikan, baju putih bercorak itu masih tersimpan rapi dipojok rumah kardusnya. Emak bilang ia terlihat gagah memakai baju itu, emak tersenyum bangga melihatnya.
Hari-hari ia lewati dengan kesendiriannya, ia bertekad terus mencari orangtuanya, ia ingin mereka melihatnya memakai baju baru pemberian emak, tapi ia sering sekali merasa lapar, ketika ia melihat dijalan banyak sekali anak-anak seusianya menghampiri setiap kendaraan yang berhenti di lampu merah, mereka ada yang bernyanyi, menawarkan koran atau majalah, dan ia juga melihat mereka mendapatkan upah setelah bernyanyi dan berjualan. Ia mulai berpikir untuk mengikuti mereka, tapi ia tidak mau hanya berada di lampu merah saja, mana bisa ia menemukan orang tuanya hanya di depan lampu merah itu. Ia memilih memasuki bis-bis besar dan mengikuti kemana saja bis itu membawanya, harapannya ia akan mempunyai banyak kesempatan untuk menemukan orang tuanya.
Dan sampai hari ini, ia belum juga menemukan mereka, hatinya perih setiap mengingat emak, membayangkan hari-hari lalu yang ia lewati bersama emak, ia belum pernah memiliki seseorang dan ia juga belum pernah merasa kehilangan seperti ini.
Pagi itu, bu karsih tidak melihat dirinya seperti hari-hari kemarin, lalu bu karsih mendatangi rumah kardusnya.
"le....apa kamu sakit...???? kenapa kamu tidak keluar....??"
"aku hanya sedikit sakit perut bu, mungkin sebentar lagi sembuh...."
"mau ibu kasih minyak urut buat perutmu le...???"
"mau bu....rasanya perutku sakit sekali...."
Bu karsih membalur perutnya dengan minyak urut, ia terlihat senang.
"terimakasih bu, sepetinya perutku sudah membaik...."
"istirahat le...nanti ibu carikan makanan untuk mu...."
sahut bu karsih.
Ia tertidur pulas, dan rasa sakit itu belum juga hilang. Ketika ia membuka mata, hari telah malam, ia menemukan sebungkus nasi dan air tepat disebelahnya, pasti bu karsih yang menaruhnya, ia membuka bungkusan nasi itu dan coba memakannya, terasa pahit di mulutnya, tapi ia lapar, perlahan ia makan dan ia tidak bisa menghabiskan makanannya itu, perutnya terasa keras, ia coba berdiri tapi kakinya lemah tak kuat menopang tubuh kurusnya, ia hanya duduk dan meringis, air matanya mengalir menahan sakitnya. Ia kembali teringat emak dan kerinduannya akan orang tuanya, ibunya. Ia selalu membayangkan wajah ibu yang belum pernah ia temui, pasti ibuku sangat cantik, pikirnya... setiap ia melewati toko roti dekat rumah kardusnya, ia sangat senang membaui aroma roti yang baru matang, sangat harum, hangat, terbayang di benaknya aroma hangat itu adalah aroma tubuh ibunya yang ingin ia peluk. Lalu ia berusaha menggapai baju baru pemberian emak, ia memakai baju baru itu, ia juga bisa merasakan aroma roti baru matang itu sekarang. Ia berpikir, pasti malam ini ibunya akan menemukannya disini, ia harus tampak gagah dah kuat, ia tidak mau ibunya melihat ia sakit dan lemah. Ibunya pasti akan membawanya keluar dari rumah kardus ini, ia akan tinggal bersama ibunya di rumah yang kecil dan indah, ibunya akan memberikan ia makanan yang enak dan tentu saja roti hangat itu, ia akan bermain bersama ibunya ditaman kecil, dan malam hari saat ia terkantuk, ibunya akan memeluknya erat dan bernyanyi menemani tidurnya, dan disaat pagi hari ketika ia membuka mata, ibu sudah ada disampingnya, memberikan senyuman dan salam selamat pagi.
Lilin itu semakin kecil dan redup, ia tertidur kembali dengan baju barunya, sesekali ia membuka matanya, untuk melihat apakah ibunya sudah datang. Perutnya semakin keras, kaku dan tegang, sakit luar biasa, ia tak sanggup mengeluarkan suara untuk memanggil bu karsih. Ia hanya melihat kearah lilin yang semakin redup itu, angin malam juga semakin terasa menusuk sampai terasa ke tulang-tulangnya, ia menggigil, pandangannya nanar, mulutnya bergetar, ia merasa sangat haus, sakit dan kedinginan, tapi ia sudah tidak sanggup untuk melakukan apa-apa. Lilin itu begitu redup...sangat redup....ia tersenyum dari mulutnya terdengar pelan sekali....
"iiiiibbbbuuuu...."
Dan lilin itu mati, tidak ada sinar lagi, ia takut sekali akan kegelapan, Gelap yang pekat dan sunyi, ia merasa sangat sendiri. Ia coba gerakkan kakinya, hhmmmm.....dia bisa menggerakkannya, ia juga tidak merasa sakit dan kedinginan lagi, gelap ini nyaman sekali, membuat rasa sakitnya hilang, dan hatinya tidak bersedih lagi, ia merasa tenang dan bahagia. Lalu gelap itu hilang, ia bisa melihat sekeliling rumah kardusnya kembali, dan saat itu matanya langsung tertuju pada satu sosok anak kecil yang terbaring lemah dengan senyum yang hangat.
Lilin itu redup kembali..........
==========================================================
Bandung 7-9 Desember 2009
original by : Dewi Yovanka Hutagalung
Note
3 hari ku coba membuat cerpen ini, cukup lama ide cerpen ini ada, dan perlu waktu untuk menuangkannya ke dalam tulisan, dengan keterbatasan waktu karena kesibukkan ku sebagai seorang ibu dan pekerja, hari ini bisa kurampungkan.
Mudah-mudahan berkenan buat teman-teman
Selamat menikmati kebersamaan bersama keluarga anda
Jadikan keluarga nomor satu dalam hidup anda
Anak adalah buah hati yang rapuh, tanpa kita ia akan redup seperti lilin yang habis perlahan-lahan.
Kupersembahkan tulisan ku ini untuk kedua buah hatiku
Kasih cintaku sepanjang masa untuk kalian.
hiks...
ReplyDeletemuantabh Few...
nuun afah.....:D mmuaahhhh...
ReplyDelete