Suatu hari nanti, jika anak-anakku membaca tulisan ini, ketahuilah nak...tidak ada penyesalan sama sekali dalam hidup bunda, ketika memilih dan memberikan semua kehidupan bunda untuk membesarkan, merawat dan memberikan kebahagian untuk kalian. Bunda sangat mencintai kalian...
Satu waktu dimasa kecilku, teringat jelas...aku berdiri tegak diatas bangunan tingkat 2 (loteng) yang baru setengah jadi milik kakekku yang aku panggil opung, bangunan setengah jadi itu hanya memiliki alas papan dan tidak ada atap serta dinding disekelilingnya. Aku biasa berdiri diujung bangunan tersebut, dari ketinggian ini aku bisa memandang bangunan-bangunan tinggi yang baru dibangun disekeliling daerah rumah opung, membiarkan angin memainkan rambut dan mengibarkan bajuku, merentangkan tangan dengan lebar dan memejamkan mataku, aku membiarkan angin menerpa pipiku pelan-pelan. saat-saat ini adalah saat dimana aku bisa bermimpi dan melupakan sejenak kesedihan karena aku tidak bersama orangtuaku. Terkadang ketika tidak ada yang memperhatikanku, aku membuat secangkir kopi dan membawa beberapa keping biskuit, lari menapaki tangga menuju loteng setengah jadi itu, berpura-pura menjadi orang dewasa sambil menikmati kopi dan biskuit, berbicara sendiri dalam hati dan tersenyum kecil. "Apa yang mau kamu lakukan ketika dewasa nanti...??" dalam hati kuberbicara, "Apakah kamu mau melihat seperti apa bangunan-bangunan tinggi itu dari dalam, ketika sudah jadi nanti...?" sambil memandang Wisma Dharmala, Wisma Metropolitan 2, 3 di Jl. Jend Sudirman Jakarta, yg memang terlihat dari loteng opung ku ini. "Tidak....aku tidak mau melihat apapun bentuknya bangunan itu ketika sudah jadi..., aku hanya mau melihat bangunan lain dikota lain, bahkan di negara lain, aku mau tau, apakah ditempat lain selain disini, ada seorang anak seperti ku juga, apa yang dia kerjakan disana, apakah dia bahagia? apakah dia bisa bermain bebas? apakah dia bisa bersama orangtuanya? bahagiakah dia bersama keluarganya...? aku hanya ingin melihat dunia, selain dunia kecil ku ini..."
Waktu yang kulewati berjalan seperti hembusan angin, semakin ku mengulur waktu untuk melihat kebelakang, semakin ia cepat berlalu tidak membiarkan aku sekejap pun untuk menoleh dan merenung. Dan aku dapati diriku menjalani waktu dengan kompromi, terkadang aku tersadar oleh sentuhan waktu, "stoppppp...!!!" seruku dengan nyaring pada waktu, "Tunggu sebentar aku belum melihat seseorang seperti ku dibelahan dunia lain, tunggulah sebentar..bisakah kau menunggu aku menyembuhkan luka hatiku barang sejenak ?, aku akan kembali menyusun rencana menemui aku di belahan dunia lain itu", rengekku memelas. Tapi waktu tidak menghiraukan ku, dia malah memberiku kesenangan semu, memberiku alasan untuk tetap berdiam ditempat ini lebih lama. Jahatnya kau waktu, alih-alih membiarkan aku bermimpi dan meraihnya, kau malah memberikan cinta memabukkan, yang bahkan membuatku lupa akan sakit dan perihnya jalan yang aku lalui sebelumnya. Aku terlena, karena cinta yang aku dapati menyembuhkan semua luka ku, aku terpesona, karena cinta yang aku terima melebihi yang aku harapkan, benar-benar membuatku terkesima dan mabuk kepayang.
Dan pada akhirnya semua pilihan-pilihan sulit hidupku bersama waktu, menempatkan aku disini, tersenyum memegang erat lengan pasanganku, berjalan bersama menembus waktu, tapi waktu pun tidak membiarkanku terlelap dengan cinta, waktu membuka mataku bahwa mimpi ku belum selesai, aku hanya terkurung disini dengan cinta yang membutakan.
Duniaku teralihkan ketika waktu memberikan hadiah atas nama cinta, cinta tumbuh dalam diriku, keajaiban nyata dalam tubuhku, luar biasa hal terindah yang pernah aku rasakan. Menjadi ibu, melihat kaki kecilnya bergerak, merasakan genggaman mungil tangannya, dan tatapan tak berdayanya...ohhh Tuhan...terimakasih Kau biarkan waktu memberiku kebahagian ini. Dan kebahagianku semakin lengkap dengan cinta mungil lainnya yang hadir, dengan kebahagian berbeda, dengan gerakan kaki mungil yg berbeda, genggaman tangan yang berbeda, dan tatapan tak berdaya yang berbeda, kebahagian ku lengkap sudah.
Hari-hariku penuh dengan peluh diantara kebahagian dan kerasnya kehidupan, aku jalanin karena cinta kasihku begitu besar untuk anak-anakku, melihat mereka tumbuh, sehat, bahagia, memberikan mereka cinta, kasih, membiarkan mereka belajar tentang waktu dan pilihan-pilihan hidup mereka nantinya, memberikan mereka arti kebaikan, mencontohkan mereka arti pengorbanan, dan pada akhirnya menuntun mereka mengejar mimpi dan kebahagian mereka nantinya.
Sejenak aku lupa akan mimpiku, waktu bertanya padaku "lupakah kau akan mimpimu?? bahkan kau hampir lupa akan aku..hadiah dariku begitu besar pengaruhnya, hingga kau melupakan semuanya...."
Seketika aku tercekat, memandang pantulan wajahku sendiri, dan aku tersentak kaget, begitu banyak waktu yang terlewat, sehingga aku bisa melihat warna abu mendominasi warna rambutku sekarang, kerutan-kerutan keras semakin ketara di wajahku, dan aku tidak mengenali lagi diriku, tubuhku, wajahku. "Berapa lama aku meninggalkanmu waktu...?" aku berbisik. "tidak lama..." waktu berbisik kembali padaku, "kau hanya menikmati setiap penggalan waktu tanpa mengeluh bersama buah hatimu, kau hanya menikmati waktu bersama keluargamu tanpa menghitung aku, itu saja...dan lihatlah betapa kuatnya kau sekarang ditempa oleh ku lewat kesakitan dan perihnya kehidupan, tapi kau tetap berdiri dan tetap memilih menjadi IBU, lihatlah betapa kekuatan cintamu membuat buah hatimu tumbuh dengan penuh cinta. Kau berhasil..kau mengalahkan kepentinganmu sendiri untuk menjadi ibu, kau kubur mimpimu untuk memberikan mimpi bagi anak-anakmu, jangan bersedih, kau bisa mengganti mimpimu demi mereka, karena mimpi dan kebahagian mereka bukannya milikmu juga...?" tanya waktu sinis pada ku.
Satu waktu dimasa kecilku, teringat jelas...aku berdiri tegak diatas bangunan tingkat 2 (loteng) yang baru setengah jadi milik kakekku yang aku panggil opung, bangunan setengah jadi itu hanya memiliki alas papan dan tidak ada atap serta dinding disekelilingnya. Aku biasa berdiri diujung bangunan tersebut, dari ketinggian ini aku bisa memandang bangunan-bangunan tinggi yang baru dibangun disekeliling daerah rumah opung, membiarkan angin memainkan rambut dan mengibarkan bajuku, merentangkan tangan dengan lebar dan memejamkan mataku, aku membiarkan angin menerpa pipiku pelan-pelan. saat-saat ini adalah saat dimana aku bisa bermimpi dan melupakan sejenak kesedihan karena aku tidak bersama orangtuaku. Terkadang ketika tidak ada yang memperhatikanku, aku membuat secangkir kopi dan membawa beberapa keping biskuit, lari menapaki tangga menuju loteng setengah jadi itu, berpura-pura menjadi orang dewasa sambil menikmati kopi dan biskuit, berbicara sendiri dalam hati dan tersenyum kecil. "Apa yang mau kamu lakukan ketika dewasa nanti...??" dalam hati kuberbicara, "Apakah kamu mau melihat seperti apa bangunan-bangunan tinggi itu dari dalam, ketika sudah jadi nanti...?" sambil memandang Wisma Dharmala, Wisma Metropolitan 2, 3 di Jl. Jend Sudirman Jakarta, yg memang terlihat dari loteng opung ku ini. "Tidak....aku tidak mau melihat apapun bentuknya bangunan itu ketika sudah jadi..., aku hanya mau melihat bangunan lain dikota lain, bahkan di negara lain, aku mau tau, apakah ditempat lain selain disini, ada seorang anak seperti ku juga, apa yang dia kerjakan disana, apakah dia bahagia? apakah dia bisa bermain bebas? apakah dia bisa bersama orangtuanya? bahagiakah dia bersama keluarganya...? aku hanya ingin melihat dunia, selain dunia kecil ku ini..."
Waktu yang kulewati berjalan seperti hembusan angin, semakin ku mengulur waktu untuk melihat kebelakang, semakin ia cepat berlalu tidak membiarkan aku sekejap pun untuk menoleh dan merenung. Dan aku dapati diriku menjalani waktu dengan kompromi, terkadang aku tersadar oleh sentuhan waktu, "stoppppp...!!!" seruku dengan nyaring pada waktu, "Tunggu sebentar aku belum melihat seseorang seperti ku dibelahan dunia lain, tunggulah sebentar..bisakah kau menunggu aku menyembuhkan luka hatiku barang sejenak ?, aku akan kembali menyusun rencana menemui aku di belahan dunia lain itu", rengekku memelas. Tapi waktu tidak menghiraukan ku, dia malah memberiku kesenangan semu, memberiku alasan untuk tetap berdiam ditempat ini lebih lama. Jahatnya kau waktu, alih-alih membiarkan aku bermimpi dan meraihnya, kau malah memberikan cinta memabukkan, yang bahkan membuatku lupa akan sakit dan perihnya jalan yang aku lalui sebelumnya. Aku terlena, karena cinta yang aku dapati menyembuhkan semua luka ku, aku terpesona, karena cinta yang aku terima melebihi yang aku harapkan, benar-benar membuatku terkesima dan mabuk kepayang.
Dan pada akhirnya semua pilihan-pilihan sulit hidupku bersama waktu, menempatkan aku disini, tersenyum memegang erat lengan pasanganku, berjalan bersama menembus waktu, tapi waktu pun tidak membiarkanku terlelap dengan cinta, waktu membuka mataku bahwa mimpi ku belum selesai, aku hanya terkurung disini dengan cinta yang membutakan.
Duniaku teralihkan ketika waktu memberikan hadiah atas nama cinta, cinta tumbuh dalam diriku, keajaiban nyata dalam tubuhku, luar biasa hal terindah yang pernah aku rasakan. Menjadi ibu, melihat kaki kecilnya bergerak, merasakan genggaman mungil tangannya, dan tatapan tak berdayanya...ohhh Tuhan...terimakasih Kau biarkan waktu memberiku kebahagian ini. Dan kebahagianku semakin lengkap dengan cinta mungil lainnya yang hadir, dengan kebahagian berbeda, dengan gerakan kaki mungil yg berbeda, genggaman tangan yang berbeda, dan tatapan tak berdaya yang berbeda, kebahagian ku lengkap sudah.
Hari-hariku penuh dengan peluh diantara kebahagian dan kerasnya kehidupan, aku jalanin karena cinta kasihku begitu besar untuk anak-anakku, melihat mereka tumbuh, sehat, bahagia, memberikan mereka cinta, kasih, membiarkan mereka belajar tentang waktu dan pilihan-pilihan hidup mereka nantinya, memberikan mereka arti kebaikan, mencontohkan mereka arti pengorbanan, dan pada akhirnya menuntun mereka mengejar mimpi dan kebahagian mereka nantinya.
Sejenak aku lupa akan mimpiku, waktu bertanya padaku "lupakah kau akan mimpimu?? bahkan kau hampir lupa akan aku..hadiah dariku begitu besar pengaruhnya, hingga kau melupakan semuanya...."
Seketika aku tercekat, memandang pantulan wajahku sendiri, dan aku tersentak kaget, begitu banyak waktu yang terlewat, sehingga aku bisa melihat warna abu mendominasi warna rambutku sekarang, kerutan-kerutan keras semakin ketara di wajahku, dan aku tidak mengenali lagi diriku, tubuhku, wajahku. "Berapa lama aku meninggalkanmu waktu...?" aku berbisik. "tidak lama..." waktu berbisik kembali padaku, "kau hanya menikmati setiap penggalan waktu tanpa mengeluh bersama buah hatimu, kau hanya menikmati waktu bersama keluargamu tanpa menghitung aku, itu saja...dan lihatlah betapa kuatnya kau sekarang ditempa oleh ku lewat kesakitan dan perihnya kehidupan, tapi kau tetap berdiri dan tetap memilih menjadi IBU, lihatlah betapa kekuatan cintamu membuat buah hatimu tumbuh dengan penuh cinta. Kau berhasil..kau mengalahkan kepentinganmu sendiri untuk menjadi ibu, kau kubur mimpimu untuk memberikan mimpi bagi anak-anakmu, jangan bersedih, kau bisa mengganti mimpimu demi mereka, karena mimpi dan kebahagian mereka bukannya milikmu juga...?" tanya waktu sinis pada ku.
Lucunya "waktu", ia bisa berjalan bahkan berlari cepat tanpa kau sadari, meninggalkan banyak kepingan harapan yang belum sempat kau wujudkan. Dan seketika "waktu" pun bisa berhenti sejenak, menampar mu, menyadarkan mu, bahwa kau telah melewati kepingan harapan mu itu jauh dibelakang.
Lalu aku tersadar "Ya.. mimpi dan kebahagian mereka adalah mimpi dan kebahagianku juga" ujarku sendu, dan....waktuuuuu...!!! seruku tersendat... "bolehkah aku minta sedikit waktumu..?" rayu ku pelan, "bolehkah aku hanya sekedar memiliki mimpi ku sendiri setelah semuanya ini...? mimpiku dulu, mimpi yang aku lupakan, mimpi yang membuat aku bertahan sejauh ini...? bolehkahh...???".
Rabu, 18 Desember 2019
Dewi Hutagalung
x
x
Rabu, 18 Desember 2019
No comments:
Post a Comment